Beberapa kasus menunjukkan, kasih sayang dan perlindungan berlebihan, misalnya kepada anak perempuan, apalagi bungsu, menyebabkan individu tidak terlatih berpikir kritis. Ia terbiasa dalam kungkungan larangan, mengembangkan karakteristik diri polos dan naif, mudah percaya, yakin orang lain mengatur dan menguasai karena mencintai. Karena itu, individu mungkin cenderung tertarik pada yang terlihat ”berwibawa”, ”berkuasa”, yang melarang-larang, bahkan menghukum.
Pada individu dengan karakteristik di atas, ”radar” untuk menyeleksi orang-orang yang berhubungan dengannya mungkin bekerja kurang baik, malah bisa menyesatkan. Ia dapat menyalahartikan ”perintah” dan ”larangan” sebagai kepedulian, tuntutan seksual dikira cinta, kemarahan dan hukuman disangka kasih sayang. Bahkan sikap kasar dan egoisme berlebihan dari pasangan mungkin dimaknai sebagai kewajiban untuk membantu yang dicintai menjadi manusia lebih baik, atau petunjuk bahwa diri sendiri ”harus lebih sabar, lebih melayani, lebih mengerti”.
Kuat menggunakan standar ganda? Misalnya, ”saya boleh selingkuh, kamu harus sepenuhnya setia”; ”saya yang memutuskan, kamu nurut saja”; atau ia marah sekali saat Anda melakukan kesalahan kecil, sementara ia dengan mudah terlambat, membatalkan janji, tidak melakukan kewajibannya? Intinya, ia terlalu sibuk menekankan hak dan aturan-aturannya sendiri, tetapi memberikan banyak larangan bagi Anda, menuntut kewajiban Anda untuk melayani, memahami, mengikuti kemauannya?
Perilaku dan dasar kemarahannya membuat Anda serba salah karena tidak konsisten dan berubah-ubah mengikuti mood, misalnya suatu saat sangat marah karena Anda bercakap-cakap dengan kenalan, tetapi ketika Anda menjaga jarak, ia juga marah karena Anda dianggap tidak ramah kepada temannya? Umumnya menunggu Anda membayari kencan, tetapi saat lain tiba-tiba marah karena merasa tersinggung saat Anda melakukan hal yang sama? Menuntut Anda dekat ke keluarganya, tetapi melarang Anda berhubungan dengan keluarga dan sahabat-sahabat Anda sendiri?
Pribadi yang baik dan mampu mencinta adalah ia yang menunjukkan kepedulian, mampu dan senang berbagi, ingin tahu apa yang disukai pasangan, ingin lebih mengenal orang-orang penting dalam kehidupan pasangan, menunjukkan perhatian khusus saat pasangan mengalami masalah atau sakit, dapat menunda desakan kebutuhannya bila pasangan belum mampu memenuhi. Pendeknya, dalam berbagai keterbatasannya, ia ingin membuat pasangan bahagia, menunjukkan hal-hal nyata untuk membantu pertumbuhan pribadi pasangan dalam kebersamaan yang ada.
dari kompas.com
Read More......

